HUKUM FB, TWITTER, INTERNET, TV, DLL

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya, saya bekerja di bidang teknologi informasi, nah bersama lajunya teknologi yang tidak bisa di bendung, bagaimana pandangan Islam tentang teknologi, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim terhadap kemajuan tersebut? Apalagi telah beredar fatwa atas nama ulama yang mengharamkan semacam facebook, twitter bahkan pengharaman penggunakan internet, tv, dll. Mohon Buya bisa memberi pencerahan. Terima kasih Wassalam.

Jawaban:

Wa’alaikumusalam Wr. Wb. Saudaraku, semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua. Amin. Berkenaan dengan kemajuan teknologi Islam bukan agama yang menutup diri dari kemajuan teknologi. Akan tetapi Islam telah memberi batasan-batasan penggunakan teknologi agar tidak disalah gunakan. Batasan tersebut telah disimpulkan dalam makna kemaslahatan untuk umat manusia itu sendiri. Maka segala sesuatu itu jika membahayakan manusia baik kesehatan, akhlaq atau keimanannya maka hal tersebut harus dihindari.

Facebook, twitter atau internet secara umum adalah salah satu buah kemajuan teknologi. Seperti halnya televisi, handphone dan radio juga bisa digunakan untuk kebaikan dan bisa juga digunakan untuk kemaksiatan. Maka asal hukumnya, hal tersebut diatas adalah mubah. Sebab semua itu adalah media atau wasilah. Hukum wasilah adalah sesuai hukum tujuannya.

Menghukumi media atau wasilah dengan hukum haram mutlak atau halal mutlak adalah tidak benar. Akan tetapi semua akan berubah hukumnya sesuai dengan penggunaanya. Jika digunakan untuk sesuatu yang haram maka hukumnya menjadi haram dan jika digunakan untuk sesuatu yang halal maka hukumnya juga halal (mencakup wajib, sunnah dan makruh). Wallahu a’lam bish-shawab.

AGAR SHALAT MENJADI NIKMAT

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Buya Yahya yang terhormat, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan: Adakah sebuah metode dari Buya, atau wirid yang harus saya baca agar bagaimana caranya kalau shalat itu menjadi sebuah kenikmatan? Demikian untuk sarannya kami tunggu sekali.

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb. Untuk mendapatkan kenikmatan dalam ibadah khususnya dalam shalat. Imam Al Haddad dalam Kitab Risalatul Mu’awanah menjelaskan: Untuk mencapai kenikmatan dalam shalat adalah dengan terus berusaha khusyuk dalam shalat, berlatih menyadari kalau dirinya di hadapan Allah. Sebagian para kekasih Allah menemukan kenikmatan setelah berjuang selama 20 tahun.

Adapun wirid yang harus dibaca, wirid apa saja yang benar dari Rasulullah seperti Ratibul Haddad, atau memperbanyak membaca laailaaha illallah dengan khusyuk atau membaca shalawat sebanyak-banyaknya dengan khusyuk, nanti pada akhirnya akan merasakan kenikmatan saat beribadah. Wallahu a’lam bish-shawab.

HUKUM SHOLAT JUMAT DENGAN DUA ADZAN

HUKUM SHOLAT JUMAT DENGAN DUA ADZAN

HUKUM SHOLAT JUMAT DENGAN DUA ADZAN
Oleh : Buya Yahya
(Pengasuh LPD Al-Bahjah)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العلمين, وبه نستعين على أمور الدنيا والدين, وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏ ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد


I. Pendahulan

Adanya 2 adzan dalam sholat jum’at adalah merupakan kesepakatan para ulama dari masa kemasa dimulai dari masanya Sayyidina Utsman bin Affan hingga hari ini sampai munculnya pendapat aneh yang bersebrangan dengan apa yang dijalankan oleh para ulama. Memang benar adzan jum’at pada zaman Nabi SAW dan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar adalah sekali yaitu disaat khotib duduk diatas mimbar. Akan tetapi pada zaman Sayyidina Utsman bin Affan karena semakin banyaknya kaum muslimin maka beliau menganggap perlu untuk menambahkan adzan dari 1 adzan menjadi 2 adzan. Adzan yang pertama untuk mengingatkan kaum muslimin bahwasanya hari itu adalah hari jum’at agar bersiap-siap pergi ke masjid untuk melakukan sholat jum’at. Adapun adzan yang kedua adalah untuk menunjukan bahwa sholat jum’at akan segera dimulai. Dan hal seperti ini sudah menjadi kesepakatan para ulama dari masa kemasa dan tidak ada ingkar sama sekali dari para sahabat Nabi SAW.

Kisah penambahan adzan Sayyidina Utsman Bin Affan disebutkan oleh Imam Bukhori dalam kitab shohihnya

1. Hadits yang diriwayatkan dari Sa’ib Ibn Yazid beliau berkata :

عن السائب بن يزيد -رضي الله عنه- قال: “كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ -رضي الله عنهما- فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ -رضي الله عنه- وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ” . رواه البخاري

Artinya (“Seruan adzan di hari jum’at mula-mula hanya di saat imam duduk di atas mimbar, hal ini terjadi pada zaman Nabi SAW dan zaman Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khotob. Pada zaman Sayyidina Utsman bin Affan saat orang-orang semakin banyak maka Sayyidina Utsman menambahkan adzan yang ke tiga yaitu di zauro” 
(HR Bukhori)

Zauro’ adalah satu tempat yang suaranya bisa sampai ke pasar-pasar.

2. Hadits yang di riwayatkan oleh Az-Zuhri beliau berkata :

عن الزهري قال: سمعت السائب بن يزيد -رضي الله عنه- يقول: “إِنَّ الأَذَانَ يَوْمَ الجُمُعَةِ كَانَ أَوَّلُهُ حِينَ يَجْلِسُ الإِمَامُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى المِنْبَرِ في عهد رسول الله -صلى الله عليه وآله وسلم- وأبي بكر وعمر -رضي الله عنهما-، فلما كان في خلافة عثمان -رضي الله عنه- وكثروا أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فأذن به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك”. رواه البخاري

Artinya : (“Dari Zuhri beliau berkata sesungguhnya aku mendengar Sa’ib Ibn Yazid berkata : Sesungguhnya adzan pada hari jum’at mula-mula diadakan saat imam duduk diatas mimbar pada hari jum’at pada zaman Nabi SAW, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khotob. Pada masa kekholifahan Sayyidina Utsman bin Affan saat kaum muslimin semakin banyak maka Sayyidina Utsman memerintahkan menambah satu adzan yakni adzan yang ketiga yang dikumandangkan di Zauro’, maka setelah itu seperti itulah ketetapan adzan di dalam sholat jum’at.” )

Imam Bukhori menyebut adzan yang ketiga karena secara istilah iqomat juga disebut sebagai adzan seperti yang disabdakan Nabi SAW.

بين كل أذنين نافلة لمن شاء

Artinya:(Antara 2 adzan ada sholat sunnah yang sunnah untuk dilakukan bagi yang mau melakukan”).

Rasulullah menyebut adzan dan iqomat dengan istilah 2 adzan .

Yang bisa di fahami dari dua riwayat dari Imam Bukhori adalah adzan dalam jum’at yang semula hanya ada 2 yakni adzan dan iqomat saja, kemudian ditambah oleh Sayyidina Utsman dengan 1 adzan, seperti disebutkan oleh Imam Bukhori dengan istilah adzan yang ketiga, maka adzan dalam jum’at adalah adzan pertama, adzan kedua dan iqomah.

Ibn Hajar Al-Asqolani di dalam Fathul Bari Juz 2 hal 394 berkata :

“والذي يظهر أن الناس أخذوا بفعل عثمان في جميع البلاد إذ ذاك؛ لكونه خليفةً مطاعَ الأمر”

“Yang bisa di fahami sesungguhnya orang-orang telah melakukan dengan apa yang dilakukan Sayyidina Utsman di setiap negeri pada waktu itu karena beliau adalah seorang kholifah yang harus dipatuhi perintahnya”.

Dan sungguh mematuhi Sayyidina Utsman adalah hakikat sunnah Nabi SAW seperti yang disabdakan Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim.

من يعش منكم بعدي فسيري إختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الحلفاء المهد يين الراشدين .
“Siapapun yang hidup setelahku maka akan melihat perbedaan yang banyak, maka hendaknya kalian semua berpegang kepada sunnahku dan sunnah para Kholifah Ar-Rosyidin.”

Dan itulah yang dipahami oleh para sahabat Nabi SAW sehingga pada zaman Sayyidina Utsman 2 adzan dalam sholat jum’at adalah merupakan Ijma atas kesepakatan para ulama dari masa Sayyidina Utsman bin Affan hingga hari ini. Hingga munculah pendapat yang berbeda yang seolah-olah mereka lebih tau tentang sunnah Nabi kemudian berani mengatakan jum’at dengan 2 adzan adalah bid’ah, maka pendapat seperti itu adalah pendapat yang tidak bisa dianggap sama sekali. Artinya yang membid’ahkan 2 adzan adalah membid’ahkan para sahabat-sahabat Nabi yang mulia dan sungguh benar apa yang disabdakan Nabi SAW,

إن أخر هذه الأمة يلعن أولها أخرها . حديث صحيح . رواه ابن ماجه

“Sesungguhnya umat akhir dari umat ini akan melaknat para pendahulu-pendahulunya”

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majjah

Terbukti sabda Nabi SAW pada zaman akhir ini ada orang yang membid’ahkan para salaf dan para sahabat Nabi SAW.

Mungkin ada yang bertanya, Bukankah sholat jum’at sudah ada pada zaman Nabi SAW ? Akan tetapi kenapa pada zaman Nabi adzan hanya dikumandangkan sekali kemudian di saat datang Sayyidina Utsman menjadi 2 kali ? Jawabannya adalah seperti yang disebutkan dalam riwayat Imam Bukhori di atas sebabnya adalah orang-orang semakin banyak pada zaman Sayyidina Utsman dan kota Madinah semakin melebar.

Dalam masalah ini sungguh tidak akan menjadi masalah bagi orang yang mengerti sunnah Nabi dan bagaimana berpegang pada sunnah Nabi SAW. Dan sudah menjadi maklum bagi ulama dari para sahabat Nabi bahwa berpegang kepada Khulafa Ar-Rosyidin adalah juga berpegang pada sunnah Nabi SAW.

Dari itulah kenapa para sahabat Nabi SAW bersepakat mengikuti Sayyidina Utsman padahal para sahabat Nabi juga banyak dari para ulama selain Sayyidina Utsman. Sungguh mereka tidak mengikuti sahabat Utsman kecuali karena benarnya apa yang dilakukan oleh Sayyidina Utsman Bin Affan Ra.

II. Waktu Adzan yang Pertama dan Jarak Antara Adzan yang Pertama dan Kedua

Masalah jangka waktu antara adzan pertama dan kedua tidak ada ketentuannya, hanya dikira-kira sekedar agar kaum muslimin bisa bergegas mempersiapkan sholat jum’at.

Adapun waktu adzan awal para ulama berbeda pendapat, sebagian mengatakan sebelum masuk waktu dhuhur sebagian lagi mengatakan setelah masuk waktu dhuhur. Dan perbedaan seperti ini bagi mereka para ulama sangat sederhana sebab intinya untuk mengingatkan orang-orang agar bersiap-siap dan bergegas pergi ke masjid .

III. Pendapat Ulama Saudi

Berikut ini kami akan menukil pendapat tokoh-tokoh dari Saudi yang sebetulnya kami tidak perlu mendatangkan pendapat-pendapat mereka karena dalam buku-buku kitab ahli sunnah wal jama’ah 4 madzhab sudah diterangkan dengan jelas dan gamblang tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa ulama telah bersepakat bahwa adzan dalam sholat jum’at adalah dengan 2 adzan.

Akan tetapi setelah munculnya fitnah pembid’ahan terhadap 2 adzan atau membid’ahkan adzan tambahan Sayyidina Utsman. Maka kami perlu untuk menghadirkan pendapat tokoh-tokoh dari Saudi agar orang-orang yang mengingkari 2 adzan tersebut bisa membaca. Karena kebanyakan dari mereka yang mengingkari 2 adzan banyak berkiblat kepada para tokoh-tokoh dari Arab Saudi. Dan dengan sengaja kami nukil dengan bahasa arabnya secara utuh barang kali ada sebagian pembaca yang mengerti bahasa arab agar bisa membacanya sendiri. Dan fatwa-fatwa tersebut juga kami nukil secara utuh tanpa kami kurangi sedikitpun

Yang pertama datang pertanyaan kepada Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz tentang kapan disyariatkannya 2 adzan dan bagaimana adzan tambahan yang bid’ah ini bisa terjadi di Saudi dan bagaimana orang Saudi melakukan bid’ah.

Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz menjawab dan jawaban ini juga dikeluarkan oleh lembaga fatwa terpercaya dikalangan mereka yaitu Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhust Al ‘Ilmiyah Wal Ifta’ dan juga Fatwa ini bisa di dapat dalam kumpulan risalah-risalah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz jilid 12.

Fatwa tersebut berbunyi :


ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: “عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، فتمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ” الحديث، والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان رضي الله عنه يوم الجمعة بالأذان الأول، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين، والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجة وأبو داود واللفظ له:

عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث فأذن به على الزوراء فثبت الأمر على ذلك، وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، سمَّاه ثالثاً باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده عثمان رضي الله عنه اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة بالسكوت وعدم الإنكار، فصار إجماعا سكوتياً

Artinya;(”Telah benar riwayat dari Rosululloh SAW sesungguhnya Rosululloh bersabda : “Hendaknya engkau berpegang dengan sunnah ku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Maka berpeganglah dengan sunnah tersebut dengan sungguh-sungguh.

Seruan adzan jum’at mula-mula diadakan saat imam duduk di atas mimbar pada zaman Nabi SAW, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khotob. Pada zaman Sayyidina Utsman bin Affan kaum muslimin semakin banyak. Maka Sayyidina Utsman memerintahkan menambah adzan yang pertama dalam sholat jum’at dan ini bukanlah BID’AH seperti yang telah disebutkan yaitu adanya perintah dari Nabi untuk mengikuti sunnah para Khulafa Ar-Rosyidin.

Dan landasan permasalahan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi dan Imam Abu Dawud . (Dan lafadz hadits ini diambil dari Abu Dawud)

Diriwayatkan dari Ibnu Syihab beliau berkata : Telah memberikan kabar kepadaku Sa’ib ibn Yazid : sesungguhnya adzan itu mula-mula adalah pada saat imam duduk di mimbar pada hari jum’at pada zaman Nabi Saw, zaman Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq dan zaman Sayyidina Umar bin Khotob. Pada masa kekholifahan Sayyidina Utsman tatkala orang-orang semakin banyak Sayyidina Utsman memerintahkan pada hari jum’at agar diadakan adzan yang ke 3 yang kemudian dikumandangkan adzan di Zauro’. Dan setelah itu menjadi tetap lah permasalahan ini seperti itu.

Imam Asqotolani mengomentari hadits ini dalam Syarah Bukhorinya : “Sesungguhnya adzan yang diadakan Sayyidina Utsman saat masuknya waktu diberi nama dengan adzan ketiga karena dianggap sebagai tambahan dari adzan dihadapan imam (diatas mimbar) dan iqomah untuk sholat. Iqomah di dalam sholat juga di sebut dengan istilah adzan.

Dan adzan (tambahan) ini ditambakan oleh Sayyidina Utsman saat kaum muslimin menjadi banyak, hal seperti ini merupakan Ijtihad dari beliau, dan ijtihad ini disetujui para sahabat Nabi SAW tanpa ada ingkar sama sekali dari mereka. Maka hal semacam ini sudah menjadi Ijma atau kesepakatan (Ijma Sukuti).”)

Yang kedua Fatwa Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam kitab Syarah Mumti’ juz 6 hal 162

Teks Fatwa tersebut sebagai berikut :

ولكن يجب أن نعلم أنّ عثمان ـ رضي الله عنه ـ أحد الخلفاء الراشدين الذين أمرنا باتباع سنتهم، فإن لم ترد عن النبي صلّى الله عليه وسلّم سنة تدفع ما سنه الخلفاء، فسنة الخلفاء شرع متبع، وبهذا نعرف أن الأذان الأول يوم الجمعة سنة بإثبات النبي صلّى الله عليه وسلّم ذلك بقوله: «عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين» ، أما من أنكره من المُحدَثين، وقال: إنه بدعة وضلل به عثمان ـ رضي الله عنه ـ فهو الضال المبتدع؛

لأن عثمان رضي الله عنه سنَّ الأذان الأول بسبب لم يوجد في عهد النبي صلّى الله عليه وسلّم، ولو وجد سببه في عهد الرسول صلّى الله عليه وسلّم ولم يفعله النبي صلّى الله عليه وسلّم لقلنا: إن ما فعله عثمان -رضي الله عنه- مردود؛ لأن السبب وجد في عهد النبي صلّى الله عليه وسلّم ولم يسن النبي صلّى الله عليه وسلّم فيه شيئاً، أما ما لم يوجد في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام السبب الذي من أجله سنَّ عثمان -رضي الله عنه- الأذان الأول فإن سنتَهُ سنةٌ متبعةٌ، ونحن مأمورون باتباعها

Artinya;(“Akan tetapi wajib untuk kita mengetahuinya bahwa sesungguhnya Sayyidina Utsman bin Affan adalah salah satu dari Khulafa Ar-Rosyidin yaitu orang-orang yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnah mereka.

Jika tidak ada riwayat dari Nabi SAW satu sunnah yang menolak (bertentangan) dengan sunnah para Khulafah, maka menjadi pasti sunnah para khulafah tersebut adalah Syariat yang harus di ikuti.

Atas dasar inilah kita bisa mengetahui sesungguhnya adzan yang pertama pada hari jum’at adalah sunnah dengan pengukuhan dari Nabi SAW di dalam sabdanya : “Hendaknya engkau berpegang pada sunnah ku dan sunnah para Khulafa Ar-Rosyidin”

Adapun orang yang mengingkari dari orang-orang baru (akhir zaman) yang mengatakan adzan ini adalah bid’ah kemudian mengatakan Sayyidina Utsman adalah bid’ah, sesungguhnya mereka sendirilah ORANG-ORANG YANG SESAT DAN AHLI BID’AH. Sebab sesungguhnya Sayyidina Utsman mengadakan adzan yang pertama karena sebab yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Seandainya sebab yang ada pada zaman Sayyidina Utsman juga ada pada zaman Nabi kemudian Nabi tidak melakukannya tetapi Sayyidina Utsman melakukannya niscaya kami akan sependapat dengan mereka dan apa yang dilakukan Sayyidina Utsman harus ditolak. Adapun sebab yang tidak ada pada zaman Nabi kemudian adanya pada zaman Sayyidina Utsman dan Sayyidina Utsman melakukan atas dasar sebab tersebut seperti adzan yang pertama ini maka sesungguhnya itulah sunnah yang di ikuti dan kita pun diperintahkan untuk mengikutinya”.)

IV. Kesimpulan

Kaum muslimin dan muslimat ini adalah sekelumit dari pencerahan untuk menghindarkan dari fitnah-fitnah yang ada di masjid-masjid masyarakat kita. Dan mari kita semua kembali kepada sunnah Khulafa Ar-Rosyidin dengan mempertahankan adzan jum’at dengan 2 adzan dan bagi masjid yang adzannya hanya ada satu kali kita kembalikan menjadi 2 adzan yang itu semua adalah demi kepatuhan kita kepada ulama, Khulafa Ar-Rosyidin dan kepada Rosululloh SAW.

Dan bisa disimpulkan sebagai berikut :

1. Adzan jum’at dengan 2 adzan adalah kesepakatan para sahabat Nabi dan para ulama dari masa kemasa
2. Munculnya pendapat yang berbeda dengan ini yaitu pendapat yang membid’ahkan sholat jum’at dengan 2 adzan adalah pendapat yang aneh dan hanya menimbulkan fitnah di tengah masyarakat
3. Mari kita membaca ilmu dengan penuh keinsyafanSemoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita semua .

Wallahu a’lam Bish-showab

Jangan lupa sampaikan informasi ini ke yang lain, baik via sms, telpon, fb, twitter, whatsapp, BBM dll. semoga bermanfaat.

Rasulullah SAW Bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

HUKUM MENGULANG-ULANG UMRAH DALAM SATU BEPERGIAN

Oleh : Buya Yahya

Di dalam masalah mangulang – ulang umroh dalam satu bepergian, para ulama berbeda pendapat ;

Pendapat pertama ; Hukumnya adalah sunnah. Yaitu pendapat jumhur ulama dari madzhab Hanafi dan Syafi’i dan itu juga adalah sebagian pendapat dari madzhab imam Malik, juga sebagian pendapat dalam madzhab Hambali.

Pendapat kedua ; Mengulang-ulang umrah dalam satu berpergian hukumnya makruh, itu pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki. 

Pendapat ketiga ; Mengulang-ulang hukumnya sunnah, tapi dengan syarat “tidak berurutan langsung”. Berurutan itu artinya selesai umroh kemudian umroh lagi tanpa ada jeda kegiatan yang lainnya. Menurut pendapat ini bisa mengulang-ulang umroh asalkan antara umroh dengan umroh diadakan kegiatan selain umroh.

Ini beberapa nukilan yang kami ambil dari para ulama 4 madzhab :

  • Dalam madzhab Hanafi. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin juz 2 halaman 585 :

لأن تكرار العمرة في سنة واحدة جائز بخلاف الحج …. الخ

(حاشية ابن عابدين 2/585)

 “Mengulang umrah dalam satu tahun adalah boleh, berbeda haji yang tidak boleh.”

  • Dalam madzhab Maliki disebutkan dalam kitab Mawahibul Jalil juz 2 halaman 467 :

ويستحب في كل سنة مرة ويكره تكرارها في العام الواحد على المشهور … الخ

 (مواهب الجليل 2/467)

“Disunnahkan dalam setiap tahun sekali umroh dan makruh untuk mengulanginya dalam satu tahun menurut pendapat yang masyhur.”

Di dalam madzhab Maliki disebutkan oleh imam Al-Qorofi dalam Dzakhirohnya juz 3 halaman 203 pada bab umroh :

وأما العمرة فجميع السنة وقت لها لكن تكره في أيام منى لمن يحج ويكره تكرارها في السنة الواحدة. (الذخيرة 3/203)

“Setiap tahun adalah waktu untuk umroh. Akan tetapi dimakruhkan di hari-hari mina, bagi orang yang haji. Dan dimakruhkan mengulang-ulang nya dalam satu tahun.”

  • Dalam madzhab imam Syafi’i, imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Majmu’-nya juz 7 halaman 116:

مذهبنا أنه لا يكره ذلك بل يستحب… (مجموع للنووي 7/116)

“Menurut madzhab kami (Syafi’i), tidak dimakruhkan mengulang-ulang umroh, bahkan itu disunnahkan.”

  • Dalam madzhab Hambali.

Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni-nya juz 3 halaman 174 :

ولا بأس أن يعتمر في السنة مرارا…. (مغني لابن قدامة 3/174)

“Tidak apa-apa yang ingin berumroh dalam satu tahun berulang-ulang” .

Disebutkan juga dalam dalam kitab mubdi, jus 3 halaman 261 :

لا يكره الاعتمار في السنة أكثر من مرة … (مبدع 3/261)

“Tidak dimakruhkan umroh, dalam satu tahun, lebih dari sekali.”

Dalam kitab Inshof Fiqih Hambali juz 4 halaman 57 :

لا بأس أن يعتمر في السنة مرارا… (الإنصاف 4/57)

“Tidak apa-apa (boleh) umrah di dalam satu tahun, dengan berulang-ulang.”

Kalau kita amati dari ungkapan para ulama ulama terdahulu, perbedaan disini adalah antara yang pertama mengatakan sunnah mengulang-ulang, dan yang kedua makruh mengulang-ulang. Tidak sampai derajat mengatakan bid’ah. Karena bid’ah adalah kesesatan.

Dalam hal ini hendaknya kalaupun ada perbedaan pendapat, berbedalah yang bijaksana. Jika anda ingin mengulang, mengulanglah tanpa mencaci yang tidak mengulang. Bagi yang tidak mengulang jangan mencaci yang mengulang umroh. Mari kita ikuti para salafuna sholeh, mereka tidak membid’ahkan bagi yang mengulang. Karena yang mengulang pun punya hujjah, bahwasannya mengulang adalah sunnah. Yang mau mengulang umroh dalam satu bepergian mengikuti para ulama dan yang tidak mengulang pun mengikuti para ulama.

Karena di masyarakat kita mayoritas adalah pengikut madzhab imam Syafi’i maka sangat tepat jika kami hadirkan hujjah – hujjah madzhab imam Syafi’i dan jumhur ulama yang mengatakan bahwa mengulang – ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Agar para pengikut madzhab Syafi’i semakin mantap disaat melaksanakan ibadah umroh dan sekaligus jadi pegangan untuk mereka agar tenang batin dan hati mereka disaat melaksanakan ibadah.

Hal ini perlu kami hadirkan karena kadang saat bertemu dengan masyarakat yang berbeda kemudian masyarakat tersebut menyampaikan pendapat yang berbeda dari yang selama ini dianut, lalu timbul keragu – raguan, kemudian berani menyalahkan guru – guru atau siapa pun yang bersamanya di masyarakatnya yang pada akhirnya menjadi sebab ketidaknyamanan di masyarakat tersebut.

1) Pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan muslim.

العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“umrah ke umroh penghapus dosa di antara keduanya”.

Ini adalah himbauan kita untuk memperbanyak umroh. Artinya, kalau kita umroh hendaknya kita tumpangi dengan umrah lagi agar diampuni dosa kita, diantara umroh yang pertama dengan umrah yang kedua. Ini sudah sangat cukup untuk mengatakan bahwasanya umroh berulang-ulang adalah boleh. Karena baik di dalam hadits ini atau hadits lainnya tidak pernah ada larangan untuk mengulang umroh dalam 1 bepergian.

2) Kedua kisah Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh imam Bukhori.

عَنۡ عُرۡوَةَ، عَنۡ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا؛ أَنَّهَا قَالَتۡ : فَلَمَّا قَضَيۡنَا الۡحَجَّ أَرۡسَلَنِي رَسُولُ اللهِ  مَعَ عَبۡدِ الرَّحۡمَٰنِ بۡنِ أَبِي بَكۡرٍ إِلَى التَّنۡعِيمِ، فَاعَتَمَرۡتُ،

رواه البخاري: كتاب الحج، باب كيف تهلُّ الحائض والنفساء، رقم: ١٥٥٦.

Dan setelah kami melaksanakan Ibadah haji, Rasululloh mengirimku dengan saudaraku Abdurrohman bin Abu Bakar untuk pergi ke Tan’im, kemudian aku melaksanakan umroh. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Bab Haji No. 1556

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasululloh SAW pernah menyuruh siti Aisyah melakukan umroh setelah umroh. Siti Aisyah umroh dua kali dalam satu bepergian, yaitu waktu haji wada atas perintah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Yaitu dengan miqat di Tan’im, ditemani oleh saudara beliau yang bernama abdurrohman bin abu bakar.

Setelah penjelasan ini semua, mari kita berlembut hati dengan memahami perbedaan ulama. Khususnya masyarakat di Indonesia yang mayoritas menganut madzhab Safi’i, yang mengatakan bahwa mengulang-ulang umroh dalam 1 tahun adalah sunnah. Adapun jika terjadi kepadatan di Makkah kemudian ada keinginan dari Negara atau yang berwajib untuk meringankan kepadatan tersebut maka sangat boleh pelarangan mengulang umroh dalam 1 bepergian. Akan tetapi tentu dalam irama himbauan.

Bahkan seandainya dalam bentuk larangan tentunya itu adalah larangan yang ada hubungannya dengan kemaslahatan, bukan larangan yang dihadirkan dalam bentuk cacian atau larangan yang dalam bentuk makian kepada mereka yang melakukan umroh berulang – ulang dalam satu tahun. Akan tetapi kalau sudah sampai mencaci dan mengolok, ini adalah bertentangan dengan kebiasaan para salafuna sholeh.

Kesimpulannya adalah ; bagi anda yang mengikuti madzhab Safi’i dan jumhur ulama khususnya masyarakat di Indonesia yang mengatakan bahwa mengulang-ulang  umroh dalam satu tahun dan satu bepergian adalah hal yang diperkenankan bahkan disunnahkan. Maka jalankanlah hal ini dengan penuh keyakinan tanpa keraguan bahwa dibalik amalan ini ada pahal besar dari Allah dan anda pun tidak perlu sibuk menyalahkan mereka yang tidak mau mengulang umroh.

Jika anda termasuk penganut sebagian dari madzhab Maliki yang mengatakan mengulang – ulang umroh adalah makruh anda bisa menggunakan waktu anda untuk tawaf dan itikaf di masjid sebanyak – banyaknya tanpa harus mencaci dan mengolok-olok mereka yang mengulang – ulang umroh dalam satu tahun atau satu bepergian, karena pendapat ini adalah pendapat para ulama dan mereka pun mempunyai hujjah dalam pendapatnya.

Semoga Allah menjaga hati kita, dengan adanya perbedaan pendapat tidak menjadi sebab permusuhan. Semoga Allah menjadikan kita hamba – hamba yang saling mencintai karena Allah dan Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam bishawab

Shalawat Al fatih

Shalawat Al-Fatih (Majelis Al-Bahjah Buya Yahya)

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ (نِ) الْبَشِيْرِ وَالنَّذِيْرِ الَّذِيْ تَنْفَتِحُ بِهِ اَبْوَابُ الْخَيْرِ وَتَنْغَلِقُ بِهِ أَبْوَابُ الشَّرِّ وَعَلٰى آلِهِ اْلأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَخْيَارِ

Artinya :
“ Ya Allah, limpahkan kesejahteraan (shalawat) dan keselamatan (salam) kepada yang mulia Sayyidina Muhammad SAW Pembawa Kabar Kebaikan dan Pembawa Peringatan Akan Kejelekan, yang dengan beliau-lah akan terbuka segala pintu kebaikan dan dengan beliau-lah akan tertutup segala pintu kejelekan, dan juga limpahkan ya Allah shalawat dan salam kepada keluarga beliau yang Engkau sucikan dan sahabat-sahabat beliau yang Engkau beri segala kebaikan “

(Dianjurkan Untuk Dibaca Rutin Sebanyak-banyaknya, Khususnya Disaat Ada Hajat)

Sampaikan kepada yang lain…
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukannya.” HR. Imam Muslim.

MENGUPAS AMALAN DO’A SAAT BERBUKA PUASA

(Oleh : Buya Yahya)

Secara umum dihimbau kita untuk memperbanyak do’a dan permohonan kepada Allah SWT. Khususnya disaat – saat yang dijanjikan pengkabulan secara khusus oleh Allah SWT. Seperti saat kita berbuka puasa.
Disebutkan dalam satu riwayat dari Nabi SAW :

Beliau bersabda

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم:” ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُومُ ( رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ)

“ Tiga orang yang tidak ditolak permohonannya oleh Allah SWT : Orang berpuasa hingga berbuka, Imam yang adil dan orang yang didzolimi.”
(HR Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maka dari itu sangat dihimbau disaat kita hendak berbuka untuk menghadirkan permohonan – permohonan kepada Allah SWT sesuai dengan keinginan kita. Artinya doa apa saja sangat dianjurkan untuk dibaca disaat kita berbuka. Lebih utama lagi jika doa itu adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Adapun doa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW saat berbuka adalah :
1.
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
(حديث صحيح رواه أبو داود.)
“Telah hilang dahaga dan tenggorokan pun tela menjadi basah dan semoga pahala tetap di peroleh. “ (H.R. Abu Daud)
.

1. Doa yang pernah di baca oleh sayyidina Abdulloh bin Umar ra :

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.(رواه أبو داوداً)

“Ya Allah untukMu-lah aku berpuasa, dan dengan rizkiMu-lah aku berbuka. “. (H. R. Abu Dawud)

2. Doa yang pernah di baca oleh Sayyidina Abdullah bin Amru bin Ash :

اللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ.
(رواه ابن ماجه من دعاء عبد الله بن عمرو بن العاص، وحسنه ابن حجر)

“Ya Allah sungguh aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu agar engkau mengampuni aku. “ (H.R. Ibnu Majah)

Adapun doa yang selama ini kita baca yaitu :

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

“ Ya Alloh …Hanya untuk-Mu lah aku berpuasa,kepada-Mu lah aku beriman,dengan rizqi dari-Mu lah aku berbuka. Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Maha Kasi .”

Memang doa dengan susunan seperti itu tidak ada diriwayatkan dari Nabi SAW , akan tetapi secara makna dalam semua kandungan do’a itu adalah diajarkan oleh Nabi SAW. Bahkan tersimpulkan dari rangkuman beberapa riwayat dari Nabi SAW. Sehingga sangat tepat jika do’a tersebut juga kita baca bersama do’a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW secara lafadh. Kalau kita cermati, makna dari doa tersebut sungguh sangat agung :

a. اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ
“ Ya Allah hanya untukmulah aku berpuasa.”
Yang tidak lain adalah makna ketulusan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

b. وَبِكَ آمَنْتُ
“KepadaMu-lah aku beriman”

Adalah ikrar makna keimanan. Sangat sesuai dengan hadits Nabi SAW :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ” رواه البخاري 38 ومسلم 760

“ Barangsiapa berpuasa di bulan Romahon dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, akan diampuni dosa-dosa di masa lalunya.”(H.R. Bukhri & Muslim)

3. وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
“Dengan rizkiMu-lah aku berbuka.”

Terkandung makna syukur kepada Allah SWT dan tanda patuh kepada
perintah Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون (البقرة : 172)

“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah : 172)

4. بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Dengan rahmat-Mu Ya Allah aku bisa melakukan ini semuanya. Wahai Dzat Yang Maha Kasih.”

Terkandung makna keinsyafan yang agung kepada Allah bahwa kebaikan
yang kita lakukan ini semu adalah semata- semata karena kasih sayang Allah
SWT.

Inilah sekelumit penjelasan tentang doa – doa saat berbuka puasa. Semoga menjadi bahan untuk kita semakin bersemangat dan khusyu di dalam memohon kepada Allah SWT.